Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Februari 2013
Senin, 01 Oktober 2012
kepencintaalaman
Maya
Salinka Simanjuntak (D03112052)
|
[kepencintaalaman]
|
Kepencintaalaman
merupakan dasar dari kegiatan pencinta alam. Istilah “Pecinta Alam” pertama kali
diperkenalkan oleh Mapala Universitas Indonesia pada tahun 1975. Setelah
berulang kali berganti nama, akhirnya mereka menamakan kelompoknya Mapala
UI.Setelah itu, terutama di era 1980-an, perkembangan kelompok-kelompok Pecinta Alam semakin pesat di seluruh
tanah air, sampai sekarang ini. Akhir-akhir ini minat
masyarakat (dalam hal ini pelajar dan mahasiswa) untuk masuk organisasi
Pencinta Alam (PA) relatif masih cukup banyak. Hal ini ditunjang dengan
perkembangan kepencintaalaman yang cukup pesat. Baik dari segi keragaman
kegiatan, peralatan dan sarana penunjang lainnya.
Tidak kita pungkiri di awal-awal terbentuknya organisasi PA ditahun 60-an yang dipelopori oleh Wanadri dan Mapala Universitas Indonesia, kegiatan pencinta alam/kepencintaalaman masih berkisar pada pendakian gunung. Oleh bebrapa pebisnis yang melihat peluang ini kegiatan kepencintaalaman merupakan sarana ampuh di dalam membangun kekompokkan tim (team Building) dalam bentuk outbond dimana hal ini sangat diperlukan dalam suatu kelompok kerja (perusahaan atau instansi).
Tidak kita pungkiri di awal-awal terbentuknya organisasi PA ditahun 60-an yang dipelopori oleh Wanadri dan Mapala Universitas Indonesia, kegiatan pencinta alam/kepencintaalaman masih berkisar pada pendakian gunung. Oleh bebrapa pebisnis yang melihat peluang ini kegiatan kepencintaalaman merupakan sarana ampuh di dalam membangun kekompokkan tim (team Building) dalam bentuk outbond dimana hal ini sangat diperlukan dalam suatu kelompok kerja (perusahaan atau instansi).
Banyaknya sntusiasme terhadap kegiatan pencinta alam, maka terbentuklah kode etik pencinta alam
KODE ETIK PENCINTA ALAM INDONESIA
- Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
- Pencinta Alam Indonesia sebagai bagian dari Masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air.
- Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap pencinta alam adalah saudara. Sebagai sesama makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Sesuai hakikat di atas kami dengan penuh kesadaran menyatakan sebagai berikut :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan batas kebutuhan.
3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah air.
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya, serta menghargai manusia sesuai dengan martabatnya.
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan sesama pencinta alam sesuai dengan asas tujuan pencinta alam.
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air.
7. Selesai
Disahkan dan diakui oleh seluruh Pencinta Alam Indonesia peserta Gladian IV Pencinta Alam Se-Indonesia di UjungPandang tahun 1974.
Aspek dasar dari kepencintaalaman adalah :
1.
Keselamatan. Ini harus didahulukan
2.
Ketrampilan . baik teknis yaitu penerapan
materi yang didapat, ataupun fisik yaitu latihan –latihan yang menunjang
kegiatan pencinta alam.
3.
Kepuasaan. Kita akan mendapat point ke tiga ini
jika point 1 dan 2 sudah kita kuasai.
Terdapat juga
pokok-pokok penting dalam kepencintaalaman, yaitu :
1. Harus
ada latihan fisik
2. Buatlah
kegiatan yang bervariasi agar tidak menimbulkan kebosanan
3. Biasakan
untuk mengadakan evaluasi kegiatan tiap kegiatan itu usai. Evaluasi ini bukan
hanya sekedar mencari kesalahan atau kekurangan yang terjadi, tapi usahakan
agar kesalahan / kekurangan itu tidak terjadi lagi di kegiatan selanjutnya.
4. Kita
harus bersikap ilmiah dan sifat yang disiplin ilmu untuk menunjang kegiatan
berjalan lancer.
SUMBER :
Minggu, 13 Mei 2012
the change..
hujan telah usai, cahaya
mulai berpendar jadi lebih kelam lagi. kadang di saat ini, muncul
pikiran-pikiran yang aku sendiri tidak mengerti mengapa. dan kini aku
ingn mengabadikannya dalam bentuk tulisan. tidak seperti meratapi
nasib, tapi yaa sekedar mengkais minat. pikiranku, aku lebih suka
mengingat mengapa aku jadi seperti sekarang ini. dan mencoba mencari jawaban menurut versiku sendiri. dan jawabanku cukup banyak. tapi satu hal yang ingin aku ceritakan.
ceritanya ku mulai disini, menjadi anak baru di kelas X. dengan bekal yang bergambar di otakku bahwa kehidupan anak sma tidak jauh berbeda dengan anak smp.kulangkahkan kaki dengan sedikit terbirit-birit di hari pertama MOS. nyaris telat. usai masa MOS selama beberapa hari, aku merasakan perbedaan antara realita dengan gambar di otakku. namun tidak begitu ku gubris. hingga aku menjadi anak yang begitu terpojok, kuper, minder, dan semacamnya.
sikap yang seperti itu tidak menjadi hal baru bagiku, tapi bila mencari topik pembahasan antarsesama saja begitu sulit, itu cukup berlebihan dari sebelumnya. dan seperti itulah hari-hari menyebalkan kulalui. TERKECUALI, semacam harta karun yang dicari para perompak selama berabad-abad. aku menemukan jiwaku, kesukaanku, gairahku.
aku mulai menjajaki sebuah ekskul di semester dua. ekskul yang tidak begitu populer. dan karenanya, tidak lebih dari 10 orang mengikutinya. namun, ada semangat tidak kukenal, aku rajin mengikuti kegiatan-kegiatanny. bahkan bila aku harus pulang lebih awal karena hanya ada aku yang datang, tetap saja aku datang di hari berikutnya. dan bukan tanpa perjuangan cukup merisaukan di dalam rumah saat harus pergi.
seterusnya, hingga puncak yang ditunggu tiba. pelantikan. membayangkannya sebelum itu, seperti membuatku hilang kesabaran. dan memang benar disana aku hilang banyak kesabaran. bagaimana tidak, suasana penuh tawa menjadi suara-suara bertekanan tinggi di hadapanku. pemandangan pantai yang menyejukkan mata menjadi lemparan-lemparan tangan di pipiku. belum lagi makanan-makanan dan tempat peristirahatan menjadi tidak segenah yang dikatakan. menurutku,sebagian besar materi dan praktek yang aku dapatkan adalah bagaimana membuat peserta segan kepada atasananya. bukannya yang seharusnya ditunjukkan. yaa tujuh hari di daerah itu cukup membuat hati dan pikiranku kacau balau.
tapi kesenangan tidak selalu tampak di mata telanjang. membenahi akal kami di suatu waktu, mereka membenarkan apa yang mereka lakukn pada kami. inilah tujuan utamanya, yang sebenarnya kami pernah mendengar dari mereka dan kami rasakan. tapi tidak kami indahkan.
di malam itu, suasana menjadi begitu berbeda. barisan-barisan yang tidak begitu rapi, dua helai bendera berlambang yang menjadi identitas kami, dan sehelai bendera Sang Saka. tertancap kokoh di antara barisan2-barisan kami. tidaklah menjadi hal yang begitu membanggakan bila tanpa perjuangan setengah pingsan kami lalui. muncul dalam benak ini, inilah hasilku yang melahirkan tanggung jawab di dalamnya. dan tanggung jawab itu, tidak pernah tergambar di otakku bagaimana itu ku hadapi. seperti harus mengemudikan mobil ke tjuan, tapi tidak tau cara mengemudi.
hingga aku bertemu dengan mereka. mereka yang lebih dulu mendapat tanggug jawab yang sama sepertiku.
kehadiran yang sangat membantu aku dan teman-teman seperjuangan. memberiku banyak pengetahuan, pelajaran. dan membuatku merasakan beberapa manfaat dari pelantikan. dan hal itu mengubahku. walau jangka waktu sangat berpengaruh disini, aku yakin lembaran-lembaran hari it akan kurasa kembali di cerita berikutnya.
namun, betapa pun positif perubahan yang ku lalui, bukanlah hidup jika tidak ada yang berkebalikan. disamping aku belajar mengurus segala macam kegiatan, surat-surat, laporan, dan sebagainya. prioritas kegiatan di rumah dan di skola terpaksa ku turunkan. di samping aku belajar untuk mandiri dan tidak manja, aku harus mengutil beberapa lembar rupiah di rumah. di samping aku harus menunjukkan sikap tanggung jawab, aku terpaksa bermain lidah pada orang tua. dan disamping aku harus berpikir keras memecahkan masalah, sikap ku menjadi gampang meledak-ledak pada orang di rumh, dan aku sulit terfokus di kelas.
satu hal kemudian yang ku sadari, kesibukanku yang cukup tampak membuatku sedikit dikenal oleh guru dan teman-teman. peran membuatku belajar berbicra, berpendapat, dan bersikap tegas. walau semua karena kritikan yang kadang terasa pedas ku dengar.
lalu semuanye berlanjut, dan kisahku terjadi disini. selesai sudah peran itu yang kini jadi peran lainnya. tapi tak berpengaruh baik bagiku. suasana panas di rumah membawa perubahan-perubahan negatifku yang akhirnya mendominasi. dan itu pula yang membawaku pada beberapa image jelek terhadapku. membawaku pada beberapa sikap yang mencela dan menyalahkan orang tua bahkan guru. bermain lidah dan menciptakan sikap acuh pada hal yang sebenarnya membawa kebaikan untukku.
semakin terasa menuju benak, pikiran ini kembali kacau balau. ada yang salah tapi juga benar untukku. dan renungan itu, sungguh tidak berguna jika tanpa mengingat Sang Kuasa. disaat itu terjadi, aku tidak dapat berkata, aku tidak tau berkata, aku tak ingin berkata. menyalahkan dan melisankan jawaban yang ku dapati. tapi melakukan jawaban itu.
dalam heningnya malam, niat sholat tahajud ku lafazkan dengan sungguh. memohon ampun dan berdoa lembut, bercerita dalam tangis dan harapan. walau tidak kurasa Sang Kuasa berada di dekatku, tapi kuyakin Dia Maha Pemaaf. Dia Maha Pemberi Petunjuk, Dia Maha Bijak, Dia Maha Adil, Dia Diatas Segalanya. di atas segala yang ku dapati, bertekad dalam hatiku, semua karenanya. maka tidak luput di dalam doa, memohon petunjuk untuk segalanya.
dan seiring waktu yang terasa begitu cepat, perubahan akan kembali terjadi padaku. perubahan yang bukan positif atau negatif, tapi perubahan yang menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
dalam pandanganku, perubahan itu memang hal yang mutlak ada di kehidupan. dan menjadi yang lebih baik haruslah terjadi di kehidupan jika ingin menjadi yang sukses. karena yang tidak terjadi itu adalah bagian dari yang merugi. dan yang merugi itu membuat hal-hal yang jahat tertawa kegirangan. yang kini menjadi mendominasi banyaknya.
sekian ceritaku yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan cerita sebelumnya. semoga bermanfaat.
terima kasih banyak :) :D
ceritanya ku mulai disini, menjadi anak baru di kelas X. dengan bekal yang bergambar di otakku bahwa kehidupan anak sma tidak jauh berbeda dengan anak smp.kulangkahkan kaki dengan sedikit terbirit-birit di hari pertama MOS. nyaris telat. usai masa MOS selama beberapa hari, aku merasakan perbedaan antara realita dengan gambar di otakku. namun tidak begitu ku gubris. hingga aku menjadi anak yang begitu terpojok, kuper, minder, dan semacamnya.
sikap yang seperti itu tidak menjadi hal baru bagiku, tapi bila mencari topik pembahasan antarsesama saja begitu sulit, itu cukup berlebihan dari sebelumnya. dan seperti itulah hari-hari menyebalkan kulalui. TERKECUALI, semacam harta karun yang dicari para perompak selama berabad-abad. aku menemukan jiwaku, kesukaanku, gairahku.
aku mulai menjajaki sebuah ekskul di semester dua. ekskul yang tidak begitu populer. dan karenanya, tidak lebih dari 10 orang mengikutinya. namun, ada semangat tidak kukenal, aku rajin mengikuti kegiatan-kegiatanny. bahkan bila aku harus pulang lebih awal karena hanya ada aku yang datang, tetap saja aku datang di hari berikutnya. dan bukan tanpa perjuangan cukup merisaukan di dalam rumah saat harus pergi.
seterusnya, hingga puncak yang ditunggu tiba. pelantikan. membayangkannya sebelum itu, seperti membuatku hilang kesabaran. dan memang benar disana aku hilang banyak kesabaran. bagaimana tidak, suasana penuh tawa menjadi suara-suara bertekanan tinggi di hadapanku. pemandangan pantai yang menyejukkan mata menjadi lemparan-lemparan tangan di pipiku. belum lagi makanan-makanan dan tempat peristirahatan menjadi tidak segenah yang dikatakan. menurutku,sebagian besar materi dan praktek yang aku dapatkan adalah bagaimana membuat peserta segan kepada atasananya. bukannya yang seharusnya ditunjukkan. yaa tujuh hari di daerah itu cukup membuat hati dan pikiranku kacau balau.
tapi kesenangan tidak selalu tampak di mata telanjang. membenahi akal kami di suatu waktu, mereka membenarkan apa yang mereka lakukn pada kami. inilah tujuan utamanya, yang sebenarnya kami pernah mendengar dari mereka dan kami rasakan. tapi tidak kami indahkan.
di malam itu, suasana menjadi begitu berbeda. barisan-barisan yang tidak begitu rapi, dua helai bendera berlambang yang menjadi identitas kami, dan sehelai bendera Sang Saka. tertancap kokoh di antara barisan2-barisan kami. tidaklah menjadi hal yang begitu membanggakan bila tanpa perjuangan setengah pingsan kami lalui. muncul dalam benak ini, inilah hasilku yang melahirkan tanggung jawab di dalamnya. dan tanggung jawab itu, tidak pernah tergambar di otakku bagaimana itu ku hadapi. seperti harus mengemudikan mobil ke tjuan, tapi tidak tau cara mengemudi.
hingga aku bertemu dengan mereka. mereka yang lebih dulu mendapat tanggug jawab yang sama sepertiku.
kehadiran yang sangat membantu aku dan teman-teman seperjuangan. memberiku banyak pengetahuan, pelajaran. dan membuatku merasakan beberapa manfaat dari pelantikan. dan hal itu mengubahku. walau jangka waktu sangat berpengaruh disini, aku yakin lembaran-lembaran hari it akan kurasa kembali di cerita berikutnya.
namun, betapa pun positif perubahan yang ku lalui, bukanlah hidup jika tidak ada yang berkebalikan. disamping aku belajar mengurus segala macam kegiatan, surat-surat, laporan, dan sebagainya. prioritas kegiatan di rumah dan di skola terpaksa ku turunkan. di samping aku belajar untuk mandiri dan tidak manja, aku harus mengutil beberapa lembar rupiah di rumah. di samping aku harus menunjukkan sikap tanggung jawab, aku terpaksa bermain lidah pada orang tua. dan disamping aku harus berpikir keras memecahkan masalah, sikap ku menjadi gampang meledak-ledak pada orang di rumh, dan aku sulit terfokus di kelas.
satu hal kemudian yang ku sadari, kesibukanku yang cukup tampak membuatku sedikit dikenal oleh guru dan teman-teman. peran membuatku belajar berbicra, berpendapat, dan bersikap tegas. walau semua karena kritikan yang kadang terasa pedas ku dengar.
lalu semuanye berlanjut, dan kisahku terjadi disini. selesai sudah peran itu yang kini jadi peran lainnya. tapi tak berpengaruh baik bagiku. suasana panas di rumah membawa perubahan-perubahan negatifku yang akhirnya mendominasi. dan itu pula yang membawaku pada beberapa image jelek terhadapku. membawaku pada beberapa sikap yang mencela dan menyalahkan orang tua bahkan guru. bermain lidah dan menciptakan sikap acuh pada hal yang sebenarnya membawa kebaikan untukku.
semakin terasa menuju benak, pikiran ini kembali kacau balau. ada yang salah tapi juga benar untukku. dan renungan itu, sungguh tidak berguna jika tanpa mengingat Sang Kuasa. disaat itu terjadi, aku tidak dapat berkata, aku tidak tau berkata, aku tak ingin berkata. menyalahkan dan melisankan jawaban yang ku dapati. tapi melakukan jawaban itu.
dalam heningnya malam, niat sholat tahajud ku lafazkan dengan sungguh. memohon ampun dan berdoa lembut, bercerita dalam tangis dan harapan. walau tidak kurasa Sang Kuasa berada di dekatku, tapi kuyakin Dia Maha Pemaaf. Dia Maha Pemberi Petunjuk, Dia Maha Bijak, Dia Maha Adil, Dia Diatas Segalanya. di atas segala yang ku dapati, bertekad dalam hatiku, semua karenanya. maka tidak luput di dalam doa, memohon petunjuk untuk segalanya.
dan seiring waktu yang terasa begitu cepat, perubahan akan kembali terjadi padaku. perubahan yang bukan positif atau negatif, tapi perubahan yang menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
dalam pandanganku, perubahan itu memang hal yang mutlak ada di kehidupan. dan menjadi yang lebih baik haruslah terjadi di kehidupan jika ingin menjadi yang sukses. karena yang tidak terjadi itu adalah bagian dari yang merugi. dan yang merugi itu membuat hal-hal yang jahat tertawa kegirangan. yang kini menjadi mendominasi banyaknya.
sekian ceritaku yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan cerita sebelumnya. semoga bermanfaat.
terima kasih banyak :) :D
Label:
tulisan
Lokasi:
Pontianak, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)