Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Februari 2013

Antara Malam dan Pagi


Diamlah, hatiku, karena angkasa tidak dapat mendengarmu; diamlah, karena langit penuh tangisan dan ratapan, dan tidak dapat membawa lagu dan nyanyianmu.Diamlah, karena hantu malam tidak akan peduli pada bisikan rahasiamu; ataupun kehendak prosesi kegelapan di depan mimpimu.Diamlah, hatiku, hingga fajar datang, karena ia yang dengan sabar menunggu pagi akan bertemu dengannya dan ia yang mencintai cahaya akan dicintai oleh cahaya.Diamlah, hatiku, dan dengarkan kisahku; dalam hatiku aku melihat bulbul bernyanyi di tenggorokan; gunung berapi dan aku melihat lili mengangkat kepalanya di atas salju,dan Houri telanjang menari di tengah kubur, dan seorang bayi bermain dengan kerangka ketika tertawa.Aku melihat semua bayangan ini dalam mimpiku, dan ketika aku membuka mataku dan melihat, aku melihat gunung berapi mengamuk, namun tidak lagi mendengar bulbul menyanyi ataupun melihat ia berputar.Aku melihat langit menebarkan salju di ladang dan lembah dan membuka di bawah selubung putih tubuh kaku lili-lili. Aku melihat barisan kubur di depan kesunyian masa, namun tidak ada orang menari atau berdoa di tengah mereka. Aku melihat tumpukan kerangka, tetapi tidak ada seorang pun tertawa, kecuali angin.Dalam bangunku aku melihat kepedihan dan penderitaan; apa yang menjadi kesenangan dan manisnya mimpiku? Dimana keindahan mimpiku pergi, dan bagaimana keindahan mimpi itu menghilang?Bagaiman jiwa sabar hingga tidur mengembalikan hantu bahagia harapan dan keinginan?Perhatikan, hatiku, dan dengarkan ceritaku; kemarin jiwaku seperti pohon tua kokoh yang akarnya menembus dalam tanah, dan yang dahannya mencapai ketinggian. Jiwaku mekar di musim semi dan berbuah di musim panas, dan ketika musim gugur tiba, aku mengumpulkan buah di atas nampan perak dan menempatkannya di bagian pejalan kaki di jalan, dan semua yang lewat mengambil sesuka hati dan melanjutkan berjalan.Dan ketika musim gugur berlalu dan tunduk kegembiraannya di bawah rintihan dan ratapan, aku melihat nampanku dan hanya melihat satu buah tersisa; aku mengambil dan meletakkannya dalam mimpiku, namun menemunkannya pahit bagai empedu, dan asam bagai anggur mentah, dan aku berkata pada diriku, “Berdosalah aku karena aku telah meletakkan kutukan di mulut orang-orang dan penyakit dalam tubuh mereka. Apa yang telah kau lakukan, jiwaku, dengan manisnya getah yang akarnya menembus bumi dan keharuman yang telah kau gambarkan di langit?” dalam kemarahan aku merobek pohon tua kuat jiwaku, yang masing-masing akarnya bertahan dalam tanah. Aku mencabutnya dari masa lalu dan mengambil darinya kenangan seribu musim semi dan seribu musim gugur dan aku menanam pohon jiwaku di tempat lain. kini berada di ladang jauh dari jalan waktu, dan aku memeliharanya saat siang dan malam, berkata pada diriku, “Bangun akan membawa kita makin dekat dengan bintang.”Aku menyiramnya dengan darah dan air mata, berkata, “ada rasa dalam darah dan ada manis dalam air mata.” Ketika musim semi kembali pohonku mekar lagi, dan musim panas berbuah. Dan ketika musim gugur tiba. Aku mengumpulkan semua buah masak di atas piring emas dan menawarkannya di jalan umum, dan orang-orang lewat namun tidak menginginkan buahku.Lalu aku mengambil satu buah dan membawanya ke bibirku, dan buah itu manis bagai madu dan memabukkan bagai anggur Babylon dan harum bagai melati. Dan aku menjerit keras, “orang-orang tidak ingin berkah di mulut ataupun kebenaran di hati mereka, karena berkah adalah anak air mata dan kebenaran adalah anak darah.Aku meninggalkan kota yang hiruk pikuk untukduduk di bayangan pohon jiwaku, dalam ladang jauh dari jalan kehidupan.Diamlah, hatiku, hingga fajar datang;diamlah dan hadiri ceritaku;kemarin benakku adalah kapal layar di tengah ombak lautan dan bergerak dari angin dari satu daratan ke daratan lain. dan perahuku kosong kecuali tujuh guci warna pelangi; dan waktu datang ketika aku lelah bergerak di wajah lautan, dan aku berkata pada diriku,”aku akan kembali dengan perahu kosong pikiranku ke dermaga pulau kelahiranku.”Dan aku menyiapkan dengan mewarnai perahuku kuning seperti matahari tenggelam, dan hijau seperti jantung musim semi, dan biru seperti langit, dan merah seperti anemon. Dan di kemudi aku menggambar figur aneh penuh perhatian dan memesona mata. Dan saat aku menyelesaikan tugasku, kapal pikiranku tampak seperti visi kenabian; berlayar antara dua kebesaran, laut dan langit.Aku memasuki dermaga pulau kelahiranku, dan orang-orang bergegas untuk menemuikudengan nyanyian dan sorak sorai. Dan kerumunan mengundangku untuk memasuki kota dan memetik alat musik dan memukul tamborin.Sambutan selamat datang itu milikku karena kapalku dihias dengan indah, dan tidak ada yang masuk dan melihat bagian dalam kapal pikiranku, ataupun yang bertanya apa yang kubawa dari balik lautan, ataupun mereka dapat memeriksa apa yang kubawa. Perahuku kosong karena kecerdasannya telah membuat mereka buta. Aku berkata pada diriku, “aku telah membuat orang-orang tersesat dan dengan tujuh guci warna aku telah menipu mata mereka.”Karena itu, aku mempersiapkan kapal pikiranku, berlayar lagi. Aku mengunjungi Kepulauan Timur dan tiba di Myrrh, sandal kayu dan wewangian kuletakkan di perahuku… aku menjelajah Kepulauan Barat dan membawa gading dan rubi dan emeral dan banyak perhiasan langka… aku berlayar ke Kepulauan Selatan dan membawa denganku senjata indah dan pedang berkilau dan perisai dan semua berbagai senjata… aku mengisi perahu pikiranku dengan pilihan dan hal paling berharga di dunia, dan kembali ke dermaga Kepulauan kelahiranku, berkata, “orang-orang akan mengagungkanku, namun dengan jujur, dan mereka akan mengundangku lagiuntuk memasuki kota mereka namun dengan riang.”Dan ketika aku mencapai dermaga, tak ada yang datang untuk bertemu aku… aku berjalan di kebesaran masa laluku namun tak ada orang melihatku… aku berdiri di pasar, berteiak pada orang-orang atas harta di perahuku, dan mereka menghinaku dan tidak memedulikanku.Aku kembali ke dermaga dengan hati tanpa gairah dan kecewa dan bingung. Dan ketika aku melihat perahuku, aku menemukan benda yang belum pernah kulihat sepanjang perjalananku, dan aku berseru, “ombak lautan telah membawa pergi warna dan gambar perahuku dan membuatnya terlihat seperti tengkorak.” Angin bersama dengan terik matahari telah menghapus gambar indah dan perahuku kini bagai pakaian compang-camping. Aku tidak dapat melihat perubahan ini dari tengah hartaku, karena aku telah dibutakan dari dalam.Aku mengumpulkan benda-benda yang paling berharga di Bumi dan meletakkannya di dada mengambang di wajah air dan kembali kepada orang-orangku, namun mereka menjauhiku dan tidak dapat meihatku, karena mata mereka disilaukan oleh benda kosong yang berkilau.Saat itu aku meningglakan perahu pikiranku menuju Kota Kematian dan duduk di tengah kubur, merenungkan rahasia mereka.Diamlah, hatiku, hingga fajar tiba; diamlah, karena prahara yang mengamuk mencemooh bisikan dalam dirimu dan gua lembah tidak menggaungkan getaran senarmu.Diamlah, hatiku, hingga pagi datang, karena ia yang menuggu dengan sabar datangnya akan dipeluk oleh pagi hari.Fajar merekah, bicaralah bila kau mampu, hatiku. Di sini prosesi pagi hari… mengapa kau tak bicara? Tidakkah kesunyian malam telah meninggalkan nyanyian dalam kalbumu sehingga kau dapat bertemu fajar?Di sini kawanan merpati dan bulbul bergerak di kejauhan lembah. Apakah kau mampu terbang dengan burung atau apakah malam mengerikan melemahkan sayapmu? Gembala memimpin kambing dari kandangnya; sudahkah hantu malam meninggalkan kekuatan dalam dirimu sehingga kau dapat berjalan di belakang mereka  ke Padang Hijau? Para pria muda dan wanita berjalan dengan anggun menuju kebun anggur. Akankah kau mampu berdiri dan berjalan bersama mereka? bangkitlah, hatiku, dan berjalanlah bersama fajar, karena malam telah berlalu, dan ketakutan akan kegelapan telah musnah dengan mimpi hitam dan pikiran menyeramkannya dan perjalanan gilanya.Bangkitlah, hatiku, dan tinggikan suaramu dengan musik, karena ia yang tidak membagi fajar dengan nyanyiannya adalah salah satu anak kegelapan.(Kahlil Gibran,Syair-syair Cinta;403-411)

Senin, 01 Oktober 2012

kepencintaalaman





Maya Salinka Simanjuntak (D03112052)






[kepencintaalaman]





                Kepencintaalaman merupakan dasar dari kegiatan pencinta alam. Istilah “Pecinta Alam” pertama kali diperkenalkan oleh Mapala Universitas Indonesia pada tahun 1975. Setelah berulang kali berganti nama, akhirnya mereka menamakan kelompoknya Mapala UI.Setelah itu, terutama di era 1980-an, perkembangan kelompok-kelompok Pecinta Alam semakin pesat di seluruh tanah air, sampai sekarang ini. Akhir-akhir ini minat masyarakat (dalam hal ini pelajar dan mahasiswa) untuk masuk organisasi Pencinta Alam (PA) relatif masih cukup banyak. Hal ini ditunjang dengan perkembangan kepencintaalaman yang cukup pesat. Baik dari segi keragaman kegiatan, peralatan dan sarana penunjang lainnya.
Tidak kita pungkiri di awal-awal terbentuknya organisasi PA ditahun 60-an yang dipelopori oleh Wanadri dan Mapala Universitas Indonesia, kegiatan pencinta alam/kepencintaalaman masih berkisar pada pendakian gunung. Oleh bebrapa pebisnis yang melihat peluang ini kegiatan kepencintaalaman merupakan sarana ampuh di dalam membangun kekompokkan tim (team Building) dalam bentuk outbond dimana hal ini sangat diperlukan dalam suatu kelompok kerja (perusahaan atau instansi).

Banyaknya sntusiasme terhadap kegiatan pencinta alam, maka terbentuklah kode etik pencinta alam

KODE ETIK PENCINTA ALAM INDONESIA


- Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

- Pencinta Alam Indonesia sebagai bagian dari Masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air.

- Pencinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap pencinta alam adalah saudara. Sebagai sesama makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Sesuai hakikat di atas kami dengan penuh kesadaran menyatakan sebagai berikut :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan batas kebutuhan.

3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah air.

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya, serta menghargai manusia sesuai dengan martabatnya.

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan sesama pencinta alam sesuai dengan asas tujuan pencinta alam.

6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air.

7. Selesai

Disahkan dan diakui oleh seluruh Pencinta Alam Indonesia peserta Gladian IV Pencinta Alam Se-Indonesia di UjungPandang tahun 1974.

            Aspek dasar dari kepencintaalaman adalah :
1.       Keselamatan. Ini harus didahulukan
2.      Ketrampilan . baik teknis yaitu penerapan materi yang didapat, ataupun fisik yaitu latihan –latihan yang menunjang kegiatan pencinta alam.
3.      Kepuasaan. Kita akan mendapat point ke tiga ini jika point 1 dan 2 sudah kita kuasai.
Terdapat juga pokok-pokok penting dalam kepencintaalaman, yaitu :
1.       Harus ada latihan fisik
2.       Buatlah kegiatan yang bervariasi agar tidak menimbulkan kebosanan
3.       Biasakan untuk mengadakan evaluasi kegiatan tiap kegiatan itu usai. Evaluasi ini bukan hanya sekedar mencari kesalahan atau kekurangan yang terjadi, tapi usahakan agar kesalahan / kekurangan itu tidak terjadi lagi di kegiatan selanjutnya.
4.       Kita harus bersikap ilmiah dan sifat yang disiplin ilmu untuk menunjang kegiatan berjalan lancer.


SUMBER :


Minggu, 13 Mei 2012

the change..

hujan telah usai, cahaya mulai berpendar jadi lebih kelam lagi. kadang di saat ini, muncul pikiran-pikiran yang aku sendiri tidak mengerti mengapa. dan kini aku ingn mengabadikannya dalam bentuk tulisan. tidak seperti meratapi nasib, tapi yaa sekedar mengkais minat. pikiranku, aku lebih suka mengingat mengapa aku jadi seperti sekarang ini. dan mencoba mencari jawaban menurut versiku sendiri. dan jawabanku cukup banyak. tapi satu hal yang ingin aku ceritakan.
ceritanya ku mulai disini, menjadi anak baru di kelas X. dengan bekal yang bergambar di otakku bahwa kehidupan anak sma tidak jauh berbeda dengan anak smp.kulangkahkan kaki dengan sedikit terbirit-birit di hari pertama MOS. nyaris telat. usai masa MOS selama beberapa hari, aku merasakan perbedaan antara realita dengan gambar di otakku. namun tidak begitu ku gubris. hingga aku menjadi anak yang begitu terpojok, kuper, minder, dan semacamnya.
sikap yang seperti itu tidak menjadi hal baru bagiku, tapi bila mencari topik pembahasan antarsesama saja begitu sulit, itu cukup berlebihan dari sebelumnya. dan seperti itulah hari-hari menyebalkan kulalui. TERKECUALI, semacam harta karun yang dicari para perompak selama berabad-abad. aku menemukan jiwaku, kesukaanku, gairahku.
aku mulai menjajaki sebuah ekskul di semester dua. ekskul yang tidak begitu populer. dan karenanya, tidak lebih dari 10 orang mengikutinya. namun, ada semangat tidak kukenal, aku rajin mengikuti kegiatan-kegiatanny. bahkan bila aku harus pulang lebih awal karena hanya ada aku yang datang, tetap saja aku datang di hari berikutnya. dan bukan tanpa perjuangan cukup merisaukan di dalam rumah saat harus pergi.
seterusnya, hingga puncak yang ditunggu tiba. pelantikan. membayangkannya sebelum itu, seperti membuatku hilang kesabaran. dan memang benar disana aku hilang banyak kesabaran. bagaimana tidak, suasana penuh tawa menjadi suara-suara bertekanan tinggi di hadapanku. pemandangan pantai yang menyejukkan mata menjadi lemparan-lemparan tangan di pipiku. belum lagi makanan-makanan dan tempat peristirahatan menjadi tidak segenah yang dikatakan. menurutku,sebagian besar materi dan praktek yang aku dapatkan adalah bagaimana membuat peserta segan kepada atasananya. bukannya yang seharusnya ditunjukkan. yaa tujuh hari di daerah itu cukup membuat hati dan pikiranku kacau balau.
tapi kesenangan tidak selalu tampak di mata telanjang. membenahi akal kami di suatu waktu, mereka membenarkan apa yang mereka lakukn pada kami. inilah tujuan utamanya, yang sebenarnya kami pernah mendengar dari mereka dan kami rasakan. tapi tidak kami indahkan.
di malam itu, suasana menjadi begitu berbeda. barisan-barisan yang tidak begitu rapi, dua helai bendera berlambang yang menjadi identitas kami, dan sehelai bendera Sang Saka. tertancap kokoh di antara barisan2-barisan kami. tidaklah menjadi hal yang begitu membanggakan bila tanpa perjuangan setengah pingsan kami lalui. muncul dalam benak ini, inilah hasilku yang melahirkan tanggung jawab di dalamnya. dan tanggung jawab itu, tidak pernah tergambar di otakku bagaimana itu ku hadapi. seperti harus mengemudikan mobil ke tjuan, tapi tidak tau cara mengemudi.
hingga aku bertemu dengan mereka. mereka yang lebih dulu mendapat tanggug jawab yang sama sepertiku.
kehadiran yang sangat membantu aku dan teman-teman seperjuangan. memberiku banyak pengetahuan, pelajaran. dan membuatku merasakan beberapa manfaat dari pelantikan. dan hal itu mengubahku. walau jangka waktu sangat berpengaruh disini, aku yakin lembaran-lembaran hari it akan kurasa kembali di cerita berikutnya.
namun, betapa pun positif perubahan yang ku lalui, bukanlah hidup jika tidak ada yang berkebalikan. disamping aku belajar mengurus segala macam kegiatan, surat-surat, laporan, dan sebagainya. prioritas kegiatan di rumah dan di skola terpaksa ku turunkan. di samping aku belajar untuk mandiri dan tidak manja, aku harus mengutil beberapa lembar rupiah di rumah. di samping aku harus menunjukkan sikap tanggung jawab, aku terpaksa bermain lidah pada orang tua. dan disamping aku harus berpikir keras memecahkan masalah, sikap ku menjadi gampang meledak-ledak pada orang di rumh, dan aku sulit terfokus di kelas.
satu hal kemudian yang ku sadari, kesibukanku yang cukup tampak membuatku sedikit dikenal oleh guru dan teman-teman. peran membuatku belajar berbicra, berpendapat, dan bersikap tegas. walau semua karena kritikan yang kadang terasa pedas ku dengar.
lalu semuanye berlanjut, dan kisahku terjadi disini. selesai sudah peran itu yang kini jadi peran lainnya. tapi tak berpengaruh baik bagiku. suasana panas di rumah membawa perubahan-perubahan negatifku yang akhirnya mendominasi. dan itu pula yang membawaku pada beberapa image jelek terhadapku. membawaku pada beberapa sikap yang mencela dan menyalahkan orang tua bahkan guru. bermain lidah dan menciptakan sikap acuh pada hal yang sebenarnya membawa kebaikan untukku.
semakin terasa menuju benak, pikiran ini kembali kacau balau. ada yang salah tapi juga benar untukku. dan renungan itu, sungguh tidak berguna jika tanpa mengingat Sang Kuasa. disaat itu terjadi, aku tidak dapat berkata, aku tidak tau berkata, aku tak ingin berkata. menyalahkan dan melisankan jawaban yang ku dapati. tapi melakukan jawaban itu.
dalam heningnya malam, niat sholat tahajud ku lafazkan dengan sungguh. memohon ampun dan berdoa lembut, bercerita dalam tangis dan harapan. walau tidak kurasa Sang Kuasa berada di dekatku, tapi kuyakin Dia Maha Pemaaf. Dia Maha Pemberi Petunjuk, Dia Maha Bijak, Dia Maha Adil, Dia Diatas Segalanya. di atas segala yang ku dapati, bertekad dalam hatiku, semua karenanya. maka tidak luput di dalam doa, memohon petunjuk untuk segalanya.
dan seiring waktu yang terasa begitu cepat, perubahan akan kembali terjadi padaku. perubahan yang bukan positif atau negatif, tapi perubahan yang menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
dalam pandanganku, perubahan itu memang hal yang mutlak ada di kehidupan. dan menjadi yang lebih baik haruslah terjadi di kehidupan jika ingin menjadi yang sukses. karena yang tidak terjadi itu adalah bagian dari yang merugi. dan yang merugi itu membuat hal-hal yang jahat tertawa kegirangan. yang kini menjadi mendominasi banyaknya.

sekian ceritaku yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan cerita sebelumnya. semoga bermanfaat.
terima kasih banyak :) :D